
TIGA NASEHAT UNTUK AHLUL QUR’AN
Oleh : Syaikh Dr.Aiman Suwaid
Pertama ; Agama kita selalu mengajarkan untuk meluruskan niat. Mengapa aku ingin belajar? Apakah agar aku menjadi orang yang mahir dalam Kalam Allah? Agar aku menjadi orang yang diridhai oleh Allah? Agar aku menjadi seorang penuntut ilmu, lalu menjadi pengajar Kitab Allah? Ataukah supaya dikatakan: “si fulan adalah qari”, “si fulan adalah syaikh”, “si fulan adalah muqri’”, “menguasai jama‘ untuk sepuluh qira’at kecil dan besar”, dan seterusnya dari ucapan-ucapan duniawi yang tujuannya untuk meninggikan diri di hadapan manusia? Jika yang pertama, maka sebaik-baik perbuatan adalah itu. Namun jika yang kedua, maka seburuk-buruk perbuatan adalah itu!
Maka marilah kita semua meluruskan niat kita, baik ketika belajar maupun ketika mengajar. Kita tidak menginginkan apa pun selain karena Allah ﷻ dan derajat-derajat tertinggi di surga. Adapun urusan dunia, maka ia akan datang dengan sendirinya—dengan izin Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi. Saya tidak pernah melihat seorang pemilik Al-Qur’an yang jujur (ikhlas) melainkan Allah telah mencukupkan baginya urusan dunianya.
Kedua; Hendaknya kita memulai dengan mempelajari hukum-hukum tajwid secara teoretis, kemudian menerapkannya secara praktis—kaidah beserta penerapannya. Jangan hanya mengandalkan talqin langsung tanpa pemahaman.
Talqin langsung tanpa memahami hukum-hukum tajwid dan mengenalnya dengan baik, seiring berjalannya waktu akan menyebabkan penyimpangan dalam bacaan, ketidakteraturan, serta kembalinya lisan kepada kebiasaan lama dalam cara pengucapan. Hal itu karena seseorang tidak memiliki timbangan (standar) dan tidak memiliki kaidah yang bisa ia terapkan.
Oleh karena itu, ilmu tajwid secara teoretis adalah suatu keharusan, lalu dilatih penerapannya secara praktis. Dan ketika saya mengatakan ilmu tajwid, yang saya maksud adalah seluruh kaidahnya, bukan hanya sebagian darinya.
Sebagian saudara kita mempelajari hukum nun sukun dan tanwin, mim, serta mad dan qashr, lalu berkata: “Aku sudah mengetahui tajwid.”Tidak! Engkau baru mengetahui sebagian dari ilmu tajwid, belum mengetahuinya secara keseluruhan.
Jika engkau menginginkan ketepatan dan kesempurnaan bacaan, maka pelajarilah tajwid secara menyeluruh: dimulai dari makhraj huruf, kemudian sifat-sifat huruf secara tunggal (mufrod), lalu sifat-sifat huruf ketika saling tersusun (murakabah), serta hukum-hukum yang muncul dari hal tersebut. Ini adalah tahapan sebelum menghafal, bagi siapa saja yang ingin menghafal Al-Qur’an.
Ketiga; Hendaknya berlatih di bawah bimbingan seorang guru yang benar-benar mutqin (mahir). Jika guru tersebut tidak mutqin, maka tidak ada manfaatnya dari bacaan itu. Seorang guru harus mutqin, karena apabila guru lalai atau tidak tepat, maka ia akan melahirkan contoh-contoh bacaan yang kurang dan menyimpang.
Barang siapa ingin menghafal sebagian Al-Qur’an atau menghafal Al-Qur’an seluruhnya, hendaklah ia meluruskan niat sebagaimana telah disebutkan, lalu memulai hafalan dengan memohon pertolongan Allah ﷻ.Yang lebih utama adalah hafalan dilakukan di bawah bimbingan seorang guru (talaqi), sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Sebab Al-Qur’an itu panjang dan besar, dan seseorang jika sendirian biasanya akan merasa bosan setelah beberapa waktu. Bisa jadi ia hanya menghafal satu atau dua halaman, satu juz atau dua juz, lalu merasa jenuh. Namun apabila ia berkomitmen bersama seorang guru atau dalam halaqah Al-Qur’an, maka hal itu akan sangat membantunya dalam konsistensi dan keberlangsungan hafalan.
Hafalan adalah menjadikan satu salinan Al-Qur’an berada di memori terdalam yang telah Allah Ta‘ala anugerahkan kepada kita, wahai manusia. Menempatkan salinan dari Kalam Allah ﷻ ke dalam memori terdalam ini membutuhkan waktu. Selain itu, daya ingat yang Allah berikan kepada kita tidak berada pada tingkat yang sama pada setiap orang. Artinya, kemampuan itu bertingkat-tingkat; kita sebagai manusia tidaklah sama dalam kemampuan menyimpan informasi.
Sebagian dari kita Allah anugerahi daya ingat yang kuat, sebagian lagi daya ingat yang sedang, dan sebagian yang lain daya ingat yang lemah. Allah ﷻ berfirman:
فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ
“Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an.”(QS.73:20)
Pengertian “yang mudah” (مَا تَيَسَّرَ ), artinya tidak disyaratkan seluruh umat untuk menghafal Al-Qur’an secara lengkap. Hal itu tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang-orang yang Allah ﷻ anugerahi tingkat hafalan tertentu, kemampuan menyimpan informasi, serta himmah (semangat) yang tinggi.
Adapun manusia pada umumnya, maka ia bisa menghafal yang paling ringan, seperti surah-surah pendek bersama Al-Fatihah. Lebih dari itu sedikit, ia menghafal Juz ‘Amma. Lebih dari itu lagi, ia menghafal dua juz: Juz ‘Amma dan Tabarak. Lebih tinggi lagi, ia menghafal ‘Amma(An-Naba), Tabarak, dan Al-Baqarah. Dan seterusnya, ia menambah sesuai dengan kemampuannya. Tidak disyaratkan harus menghafal Al-Qur’an seluruhnya.
Maka apabila ia tidak mampu menghafal Al-Qur’an secara lengkap, sebagian ikhwah berkata: “Kami merasa putus asa.” Tidak perlu merasa putus asa, wahai saudaraku! Ambillah dari Al-Qur’an sesuai dengan kemampuanmu, dan apa yang tidak mampu engkau lakukan maka tinggalkanlah. Sebagaimana kata seorang penyair: “Jika engkau tidak mampu melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah, dan beralihlah kepada apa yang engkau mampu.”
Apabila Allah ﷻ memuliakan seseorang dengan mempelajari ilmu tajwid secara teoretis, lalu menerapkannya secara praktis dan terus berlatih hingga bacaannya menjadi sempurna, tidak menghilangkan satu hukum pun dari hukum-hukum tajwid, kemudian setelah itu ia mulai menyimakkan (membaca berurutan) Al-Qur’an kepada seorang guru yang mutqin, yang memiliki sanad bersambung hingga Nabi ﷺ, dan ia membacakan Al-Qur’an seluruhnya kepadanya, maka apabila ia telah selesai dan gurunya melihat padanya kemampuan untuk mengajar, sang guru akan memberinya ijazah, seraya berkata: “Aku mengijazahkanmu untuk membaca dan mengajarkan.”
Jika seseorang telah mencapai tahap ini, maka sebagaimana dahulu ia duduk untuk belajar, kini wajib baginya duduk untuk mengajar, hingga sempurna kelayakannya untuk menempati kedudukan sabda Nabi ﷺ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR.Bukhari)
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka, wahai Rabb seluruh alam. (Amin… amin… amin)
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Refrensi : https://www.youtube.com/watch?v=TiOuwWUjaHI
