
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Dengan karunia dan anugerah-Nya, Dia memudahkan para muslimah salehah untuk menghafal Kitab-Nya. Maka kita melihat pada diri mereka terwujudnya janji Allah tentang kemudahan Al-Qur’an untuk dihafal dan diingat, sebagaimana firman-Nya:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”(QS.Al-Qomar:17)
Nasehat untuk penghafal perempuan
1.Wahai penghafal Al-Qur’an, selamat bagimu! Allah telah memilihmu untuk menjaga Kitab-Nya di bumi, sehingga engkau termasuk orang-orang yang melalui mereka Allah merealisasikan janji-Nya dalam firman-Nya:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”(QS.Al-Hijr:9)
2.Wahai penghafal Al-Qur’an, janganlah engkau meremehkan apa yang telah engkau lakukan, karena di antara dua sisimu (dadamu) tersimpan ilmu. Allah Ta’ala berfirman:
“Bahkan ia adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”
Di dalam dadamu terdapat Kitab yang tidak akan terhapus oleh air. Dalam kitab-kitab terdahulu disebutkan tentang sifat umat ini: “Injil mereka ada di dalam dada mereka.”
3.Wahai pembawa Al-Qur’an, engkaulah yang pantas untuk dicemburui (secara terpuji), yang membuat orang lain merasa iri dalam arti ghibthah (iri yang dibolehkan). Iri terhadapmu adalah iri yang diperbolehkan. Nabi ﷺ bersabda:
لا تَحَاسُدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ هَذَا لَفَعَلْتُ كَمَا يَفْعَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ فَيَقُولُ لَوْ أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ رواه البخاري 6974
“Tidak ada iri hati (yang dibenarkan) kecuali pada dua perkara: seseorang yang Allah karuniakan Al-Qur’an, lalu ia membacanya siang dan malam, maka orang lain berkata: ‘Seandainya aku diberi seperti yang diberikan kepadanya, niscaya aku akan berbuat seperti yang ia lakukan.’ Dan seseorang yang Allah beri harta, lalu ia menginfakkannya pada jalan yang benar, maka orang lain berkata: ‘Seandainya aku diberi seperti yang diberikan kepadanya, niscaya aku akan berbuat seperti yang ia lakukan.’”(HR. Bukhari no. 6974)
Dan iri yang diperbolehkan itu adalah ghibthah, yaitu berharap memperoleh kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa menginginkan nikmat itu hilang darinya.
4.Wahai penghafal Al-Qur’an, wahai buah utrujah (sejenis jeruk harum) dunia, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ . رواه البخاري رقم 5007 ومسلم 1328 وعنون عليه في صحيح مسلم باب فضيلة حافظ القرآن .
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti utrujah: baunya harum dan rasanya pun enak.”(HR. Bukhari no. 5007 dan Muslim no. 1328. Dalam Shahih Muslim diberi judul bab: Keutamaan Penghafal Al-Qur’an.)
Sabda beliau: “Rasanya enak dan baunya harum” — sifat iman diserupakan dengan rasa, dan sifat bacaan dengan aroma (karena rasa lebih tetap dan lebih lama daripada aroma). Hikmah dikhususkannya utrujah sebagai perumpamaan, dibanding buah lain yang juga memiliki rasa dan aroma yang baik, adalah karena kulitnya bisa dijadikan obat, dari bijinya dapat diambil minyak yang bermanfaat, dan dikatakan pula bahwa jin tidak mendekati rumah yang di dalamnya terdapat utrujah; maka sesuai jika ia dijadikan perumpamaan bagi Al-Qur’an yang tidak didekati oleh setan. Kulit bijinya berwarna putih, sesuai dengan hati seorang mukmin. Ia juga memiliki banyak kelebihan lain seperti ukurannya yang besar, penampilannya yang indah, warnanya yang menyenangkan, teksturnya yang lembut, dan ketika dimakan selain lezat juga memperbaiki pencernaan serta menyehatkan lambung.
5.Wahai penghafal Al-Qur’an, tahukah engkau di mana kedudukanmu?
Telah meriwayatkan ibumu Aisyah رضي الله عنها bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ
“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia hafal terhadapnya, ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat.”(HR. Bukhari no. 4556)
As-safarah adalah para utusan, karena mereka menyampaikan risalah Allah kepada manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa as-safarah adalah para penulis (malaikat pencatat).
Al-bararah berarti orang-orang yang taat, dari kata al-birr yang berarti ketaatan.
Adapun al-mahir (orang yang mahir membaca Al-Qur’an) adalah orang yang cakap dan sempurna hafalannya, yang tidak terhenti-henti dan tidak merasa berat ketika membaca karena kuatnya hafalan dan ketelitiannya.
Al-Qadhi berkata: kemungkinan makna bahwa ia bersama para malaikat adalah bahwa di akhirat ia memiliki kedudukan yang membuatnya menjadi teman para malaikat as-safarah, karena ia memiliki sifat yang sama dengan mereka, yaitu membawa Kitab Allah Ta’ala. Ia juga berkata: bisa jadi maksudnya adalah bahwa ia beramal seperti amalan mereka dan menempuh jalan mereka.
Orang yang mahir lebih utama dan lebih besar pahalanya, karena ia bersama para malaikat dan memiliki banyak pahala. Kedudukan ini tidak disebutkan bagi selainnya. Bagaimana mungkin orang yang tidak memberi perhatian pada Kitab Allah, tidak menghafalnya, tidak menguasainya, serta tidak banyak membacanya dan meriwayatkannya, bisa menyamai orang yang sungguh-sungguh menaruh perhatian hingga menjadi mahir di dalamnya? والله أعلم (Allah lebih mengetahui).
Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا . ) رواه الترمذي 2838 وقَالَ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Akan dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah, serta bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.’”(HR. Tirmidzi no. 2838, beliau berkata: hadis ini hasan shahih)
Sabda beliau: “Akan dikatakan” maksudnya ketika masuk surga. “Kepada pemilik Al-Qur’an” yaitu orang yang senantiasa menyertainya dengan bacaan dan pengamalan. “Naiklah” artinya naiklah ke derajat-derajat surga. “Dan bacalah dengan tartil” yaitu bacalah dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa. “Sebagaimana engkau membacanya di dunia” yakni dengan memperbagus huruf dan memahami tempat-tempat berhenti. “Karena kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.”
Al-Khaththabi berkata: disebutkan dalam riwayat bahwa jumlah ayat Al-Qur’an sesuai dengan jumlah tingkatan surga di akhirat. Maka akan dikatakan kepada pembaca: “Naiklah sesuai dengan jumlah ayat Al-Qur’an yang dahulu engkau baca.” Siapa yang menyelesaikan seluruh Al-Qur’an, maka ia mencapai tingkatan surga yang paling tinggi. Siapa yang membaca sebagian saja, maka kenaikannya sesuai dengan kadar bacaannya. Maka batas pahala berada pada batas bacaannya.
6.Wahai penghafal Al-Qur’an, selamat bagimu! Engkau telah memakmurkan hatimu dengan Kalam Allah dan menghadiri jamuan-Nya.
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللَّهِ فَخُذُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنِّي لا أَعْلَمُ شَيْئًا أَصْفَرَ مِنْ خَيْرٍ مِنْ بَيْتٍ لَيْسَ فِيهِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ شَيْءٌ وَإِنَّ الْقَلْبَ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ شَيْءٌ خَرِبٌ كَخَرَابِ الْبَيْتِ الَّذِي لا سَاكِنَ لَهُ . رواه الدارمي 3173
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah jamuan Allah, maka ambillah darinya semampu kalian. Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih kosong dari kebaikan daripada rumah yang tidak terdapat di dalamnya sesuatu dari Kitab Allah. Dan hati yang tidak terdapat di dalamnya sesuatu dari Kitab Allah adalah hancur seperti hancurnya rumah yang tidak berpenghuni.”(HR. Ad-Darimi no. 3173)
7.Wahai pembawa Al-Qur’an, semoga berkah atasmu dan untukmu. Jika engkau ikhlas, maka dengan hafalanmu engkau selamat dari azab neraka.
Dari Abu Umamah, beliau berkata:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ هَذِهِ الْمَصَاحِفُ الْمُعَلَّقَةُ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يُعَذِّبَ قَلْبًا وَعَى الْقُرْآنَ . رواه الدارمي
“Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kalian tertipu dengan mushaf-mushaf yang tergantung (hanya dijadikan hiasan), karena sesungguhnya Allah tidak akan mengazab hati yang memelihara (menghafal dan memahami) Al-Qur’an.”(HR. Ad-Darimi no. 3185)
8.Wahai pembawa Al-Qur’an, selamat bagimu atas syafaat Kitab Allah untukmu dan perhiasan yang akan dikenakan kepadamu pada hari kiamat, jika engkau istiqamah. Itu jauh lebih agung daripada perhiasan yang engkau kenakan sekarang.
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً رواه الترمذي 2839 وقال هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat lalu berkata: ‘Wahai Rabbku, pakaikanlah ia (kehormatan).’ Maka ia dikenakan mahkota kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an berkata lagi: ‘Wahai Rabbku, tambahkanlah untuknya.’ Maka ia dikenakan pakaian kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an berkata: ‘Wahai Rabbku, ridhailah ia.’ Maka Allah meridhainya. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Bacalah dan naiklah!’ Dan setiap ayat menambah satu kebaikan baginya.”(HR. Tirmidzi no. 2839, beliau berkata: hadis ini hasan shahih)
8.Wahai ibu dari seorang penghafal Al-Qur’an, selamat atas putrimu.
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah duduk di dekat Nabi ﷺ, lalu aku mendengar beliau bersabda:
عَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ ( أي السحرة ) قَالَ ثُمَّ مَكَثَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا الزَّهْرَاوَانِ يُظِلانِ صَاحِبَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لا يُقَوَّمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا فَيَقُولانِ بِمَ كُسِينَا هَذِهِ فَيُقَالُ بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجَةِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذًّا كَانَ أَوْ تَرْتِيلا . ” رواه الإمام أحمد 21892
“Pelajarilah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya (mempelajarinya dan mengamalkannya) adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu (menghadapinya).”
Kemudian beliau diam sejenak, lalu bersabda lagi:
“Pelajarilah Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya adalah Az-Zahrawain (dua yang bercahaya). Keduanya akan menaungi pemiliknya pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau dua naungan, atau seperti dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya.
Sesungguhnya Al-Qur’an akan datang menemui pemiliknya pada hari kiamat ketika kuburnya terbelah darinya, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat, lalu berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mengenalku?’ Ia menjawab: ‘Aku tidak mengenalmu.’ Ia berkata lagi: ‘Apakah engkau mengenalku?’ Ia menjawab: ‘Aku tidak mengenalmu.’ Lalu ia berkata: ‘Aku adalah sahabatmu, Al-Qur’an, yang membuatmu haus di tengah teriknya siang dan membuatmu terjaga di malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang berada di belakang perniagaannya, dan pada hari ini engkau berada di belakang setiap perniagaan.’
Lalu ia diberi kerajaan di tangan kanannya dan keabadian di tangan kirinya. Diletakkan di atas kepalanya mahkota kehormatan, dan kedua orang tuanya dipakaikan dua pakaian yang nilainya tidak dapat ditandingi oleh penduduk dunia. Keduanya bertanya: ‘Karena apa kami dipakaikan ini?’ Dijawab: ‘Karena anak kalian mengambil (mempelajari dan mengamalkan) Al-Qur’an.’ Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Bacalah dan naiklah ke derajat-derajat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka ia terus naik selama ia membaca, baik dengan cepat maupun dengan tartil (perlahan dan benar).”(HR. Ahmad no. 21892; dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dan terdapat dalam As-Silsilah Ash-Shahihah Al-Albani no. 2829)
9.Wahai penghafal Al-Qur’an, sesungguhnya menjaga puncak lebih sulit daripada mencapainya.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا رواه البخاري 4645
“Jagalah (peliharalah) Al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”(HR. Bukhari no. 4645)
Makna “ta‘ahadu” (peliharalah) yaitu: ingat-ingatlah Al-Qur’an, teruslah membacanya, dan biasakan diri untuk mengulangnya. Jangan lalai dalam menjaganya dan mengingatnya. Sesungguhnya unta itu pada dasarnya berusaha melepaskan diri semampunya. Jika tidak dijaga dengan ikatannya, ia akan lepas. Demikian pula penghafal Al-Qur’an, jika tidak menjaganya, ia akan lepas (hafalannya), bahkan lebih cepat lagi.
Ibnu Baththal berkata: Hadis ini sesuai dengan dua ayat:
قوله تعالى ( إنا سنلقي عليك قولا ثقيلا )
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”
dan:
ولقد يسرنا القرآن للذكر
“Dan sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk peringatan.”
Barang siapa menjaga dan terus mengulanginya, maka akan dimudahkan baginya. Dan barang siapa berpaling darinya, maka ia akan terlepas darinya. (Fathul Bari)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
وعَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْقُرْآنِ مَثَلُ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ تَعَاهَدَهَا صَاحِبُهَا بِعُقُلِهَا أَمْسَكَهَا عَلَيْهِ وَإِنْ أَطْلَقَ ذَهَبَتْ . رواه البخاري
“Perumpamaan Al-Qur’an itu seperti unta yang diikat. Jika pemiliknya menjaganya dengan ikatannya, ia akan tetap bersamanya. Jika ia melepaskannya, maka ia akan pergi.”(HR. Bukhari no. 4643)
10.Wahai penghafal Al-Qur’an, janganlah engkau menurunkan dirimu dari kedudukan yang tinggi ini setelah engkau meraihnya.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:
“Para ulama salaf berbeda pendapat tentang melupakan Al-Qur’an. Sebagian dari mereka menganggapnya termasuk dosa besar. Adh-Dhahhak bin Muzahim berkata: Tidaklah seseorang mempelajari Al-Qur’an kemudian melupakannya kecuali karena dosa yang ia perbuat. Karena Allah berfirman: ‘Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.’ Dan melupakan Al-Qur’an termasuk musibah yang paling besar.
Diriwayatkan dari Abu Al-‘Aliyah:” Kami dahulu menganggap termasuk dosa besar apabila seseorang mempelajari Al-Qur’an lalu ia tertidur (lalai) darinya hingga melupakannya.” Sanadnya baik.
Dari jalur Ibnu Sirin dengan sanad sahih tentang orang yang melupakan Al-Qur’an, mereka membencinya dan mengatakan perkataan yang keras tentangnya. Berpaling dari tilawah menyebabkan lupa terhadap Al-Qur’an. Dan melupakannya menunjukkan kurangnya perhatian serta meremehkan kedudukannya. Meninggalkan penjagaan terhadap Al-Qur’an dapat menyeret kepada kembali pada kebodohan, dan kembali kepada kebodohan setelah berilmu adalah perkara yang berat. Ishaq bin Rahawaih berkata: “Dimakruhkan bagi seseorang apabila berlalu empat puluh hari tanpa ia membaca Al-Qur’an.”
11.Wahai penghafal Al-Qur’an, tegakkanlah ia (amalkanlah) dan perbanyaklah mempelajarinya, niscaya engkau akan hidup dengannya.
Abu Abdullah bin Basyar berkata dalam sya’irnya: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih baik dalam mengambil dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an seperti Abu Sahl bin Ziyad — ia adalah tetangga kami. Ia senantiasa melakukan shalat malam dan membaca Al-Qur’an. Karena seringnya ia mengulanginya, seakan-akan Al-Qur’an berada di depan kedua matanya.”
12.Wahai penghafal Al-Qur’an, selama engkau telah menjaganya di dalam hatimu, maka jagalah pula anggota tubuhmu dengannya.
Al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
“Wajib bagi pembawa Al-Qur’an dan penuntut ilmu untuk bertakwa kepada Allah dalam dirinya dan mengikhlaskan amalnya karena Allah. Jika sebelumnya ia pernah melakukan sesuatu yang tidak baik, hendaklah ia segera bertaubat dan kembali (kepada Allah), serta memulai keikhlasan dalam menuntut dan mengamalkannya. Yang diwajibkan atas pembawa Al-Qur’an dalam menjaga dirinya lebih besar daripada selainnya, sebagaimana pahala yang ia miliki juga lebih besar daripada yang lain.”
13.Wahai pembawa Al-Qur’an, janganlah engkau tertipu oleh hafalan sehingga meninggalkan pengamalan.
Dalam riwayat Syu‘bah dari Qatadah disebutkan:
“Orang mukmin yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat.”
Tambahan ini menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah membaca Al-Qur’an dan tidak menyelisihi perintah serta larangannya, bukan sekadar membaca saja.
14.Wahai pembawa Al-Qur’an, ketahuilah kedudukan apa yang ada di dalam dadamu dan berikanlah hak serta tempat yang layak baginya.
Sebagaimana engkau telah naik ke derajat yang tinggi dengan menghafalnya, maka di sisi lain ada tanggung jawab dan kewajiban yang sebanding dengan itu. Sesungguhnya hafalan bukanlah lencana untuk digantungkan, bukan pula sertifikat untuk dihias, atau hadiah untuk dibagikan. Ia adalah amanah yang wajib ditunaikan haknya.
Sepatutnya pembawa Al-Qur’an berada dalam keadaan dan akhlak yang paling mulia.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Pembawa Al-Qur’an adalah pembawa panji Islam. Tidak sepantasnya ia bersenda gurau bersama orang yang bersenda gurau, tidak lalai bersama orang yang lalai, dan tidak berkata sia-sia bersama orang yang berkata sia-sia, sebagai bentuk pengagungan terhadap hak Al-Qur’an.”
Ia harus teguh hati dan berdiri di atas kebenaran.
Ketika kaum Muslimin memerangi Musailamah Al-Kadzdzab dan pembawa panji mereka, Zaid bin Al-Khaththab r.a, gugur, maka Salim maula Abu Hudzaifah maju untuk mengambilnya. Kaum Muslimin berkata: “Wahai Salim, kami khawatir kami akan dikalahkan karena engkau.” Ia menjawab: “Alangkah buruknya aku sebagai pembawa Al-Qur’an jika kalian dikalahkan karena aku.” Lalu tangan kanannya terputus, ia mengambil panji dengan tangan kirinya, lalu tangan kirinya pun terputus, maka ia memeluk panji itu sambil berkata:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul.Betapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikut yang bertakwa.”
Ketika ia gugur, ditanyakan kepada para sahabatnya: “Apa yang terjadi dengan Abu Hudzaifah?” Dijawab: “Ia telah gugur.” (Al-Jihad karya Ibnu Al-Mubarak)
15.Wahai pembawa Al-Qur’an, jauhilah sikap sombong terhadap orang yang tidak hafal. Bisa jadi orang yang sedikit namun memiliki uzur itu beruntung, sementara penghafal yang sombong justru merugi.
Dari Abdullah bin ‘Amr r.a, seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ajarkan aku, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bacalah tiga surah yang diawali dengan ‘Alif Lam Ra’.” Lelaki itu berkata: “Usiaku telah tua, hatiku telah keras, dan lisanku telah berat.” Beliau bersabda: “Kalau begitu bacalah dari surah-surah yang diawali ‘Ha Mim’.” Ia mengulang jawaban yang sama. Beliau bersabda: “Bacalah tiga surah dari Al-Musabbihat.” Ia kembali menjawab seperti sebelumnya. Lelaki itu berkata: “Tetapi ajarkanlah aku satu surah yang mencakup semuanya.” Maka beliau membacakan kepadanya ‘Idza Zulzilatil Ardhu’ (Surah Az-Zalzalah).
Setelah selesai, lelaki itu berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah lebih dari ini selamanya.” Lalu ia pergi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Beruntunglah lelaki kecil itu, beruntunglah lelaki kecil itu.”(HR. Abu Dawud no. 1191)
16.Wahai pembawa Al-Qur’an, janganlah engkau menunggu pujian dan penghargaan manusia. Berjuanglah agar tidak terpengaruh oleh sanjungan dan pujian mereka demi keikhlasan kepada Allah.
Benar, manusia wajib memuliakan pembawa Al-Qur’an, karena di dalam dadanya terdapat Kalamullah. Termasuk bentuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak pula meremehkannya.
Ibnu Abd rahimahullahberkata:
“Para pembawa Al-Qur’an adalah orang-orang yang diliputi rahmat Allah, diagungkan karena Kalam Allah, dan dipakaikan cahaya Allah. Barang siapa memusuhi mereka berarti meremehkan hak Allah Ta‘ala.”
Disebutkan pula oleh penulis Al-Fawakih Ad-Dawani bahwa para ulama mengatakan: Ghibah terhadap ulama dan pembawa Al-Qur’an lebih besar dosanya daripada ghibah terhadap selain mereka.
Namun demikian, pembawa Al-Qur’an tidak boleh tertipu oleh kehormatan dan hak yang dimiliki para penghafal. Bisa jadi kurangnya keikhlasan justru mengeluarkannya dari golongan mereka. Refrensi : https://www.qkalbirk.org.sa/art/s/27/%D9%88%D8%B5%D8%A7%D9%8A%D8%A7-%D9%84%D8%AD%D8%A7%D9%81%D8%B8%D8%A7%D8%AA-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%8
