By. Satria hadi lubis
CINTA dalam rumah tangga tidak hadir dengan sendirinya. Ia perlu ditanam dan dijaga. Seorang istri yang dicintai suami bukan selalu yang paling cantik wajahnya, tetapi yang paling menenangkan hati suami.
Taat kepada Allah, maka cinta akan datang
Sumber utama keberkahan rumah tangga adalah ketaatan kepada Allah.
Lalu bagaimana menjadi istri yang dicintai dan disayang suami?
Rasulullah saw bersabda:
“Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ahmad)
Istri yang dekat dengan Allah akan lebih sabar, lebih lembut, dan lebih menjaga diri. Dari situlah, cinta suami tumbuh tanpa dipaksa.
Taat kepada suami dalam kebaikan
Dalam Islam, ketaatan kepada suami adalah salah satu jalan besar menuju ridha Allah SWT.
Rasulullah saw bersabda:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)
Tentu bukan untuk merendahkan, tetapi menunjukkan besarnya hak suami untuk ditaati dalam hal yang ma’ruf.
Istri yang disayang suami tidak suka membantah dengan kasar, tidak meremehkan keputusan suami, menjaga adab dalam perbedaan. Karena laki-laki sangat menghargai penghormatan.
Menjaga kehormatan dan kepercayaan
Cinta suami akan tumbuh kuat ketika ia merasa aman.
“Sebab itu maka wanita yang sholihah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada…” (QS. An-Nisa: 34)
Menjaga kehormatan itu meliputi menjaga diri dari hal yang mencurigakan, menjaga lisan dari membuka aib rumah tangga dan menjaga sikap di luar rumah.
- Berakhlak lembut dan menyenangkan
Rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat pulang. Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya…” (HR. Tirmidzi)
Istri yang disayang suami adalah istri yang berbicara dengan lembut, tidak suka menyakiti dengan kata-kata kasar, dan
pandai menciptakan suasana nyaman. Karena laki-laki tidak hanya butuh pasangan, tapi juga ketenangan.
Pandai bersyukur dan tidak banyak menuntut
Salah satu yang merusak cinta adalah sering mengeluh dan kurang bersyukur. Rasulullah saw mengingatkan tentang wanita yang : “…kufur terhadap kebaikan suaminya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Istri yang disayang adalah istri yang menghargai usaha suami, sekecil apa pun. Tidak membandingkan dengan orang lain, tidak mudah mengeluh. Karena penghargaan kecil bisa membuat tumbuhnya cinta yang besar.
Berhias untuk suami dan menjaga penampilan
Ini bukan soal berlebihan, tapi tentang perhatian. Para sahabat mengatakan :
“Sebagaimana aku suka istriku berhias untukku, maka aku pun berhias untuknya.”
Istri yang menjaga penampilan membuat suami merasa dihargai, menjaga ketertarikan dan menutup pintu fitnah dari luar.
Menjadi pendukung terbaik, bukan penambah beban
Hidup suami sudah tidak mudah. Ada tekanan, tanggung jawab, dan beban yang sering tak terlihat. Istri yang disayang adalah istri yang menguatkan, bukan menyalahkan. Mendukung, bukan menuntut berlebihan, serta menjadi tempat pulang yang menenangkan.
Allah SWT berfirman:
“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah: 187)
Pakaian itu berarti menutupi kekurangan, menghangatkan dan memberi kenyamanan.
Kesimpulannya, menjadi istri yang disayang suami bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus memperbaiki diri. Tentang ketaatan kepada Allah, penghormatan kepada suami, dan akhlak yang menenangkan.
Karena pada akhirnya…
Seorang suami tidak hanya mencintai istrinya karena kecantikannya, tetapi karena sikapnya yang membuatnya ingin pulang… lagi dan lagi.
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqon: 74)
Baca juga : Wasiat untuk Para Penghafal Kitab Allah (Kaum Wanita)
